Bagai prajurit
yang hendak berperang namun tanpa instruksi yang jelas. Mereka tak tau kapan harus
menggunakan pisau, senapan atau granat untuk menyerang musuh mereka yang pasti
akan datang. Mungkin inilah analogi yang
mendekati gambaran warga Indonesia yang
tak sedikit dari kita masih bertanya tanya apa itu AFTA.
Rata-rata
berita tentang AFTA dan MEA hanya beredar melalui media cetak dan media
elektronik, yang seharusnya diadakan penyuluhan oleh pihak pemerintah pada
warganya sendiri mengenai AFTA yang semakin dekat dan tak dapat terelakkan.
Karena nyatanya tak semua media tersebut dapat terjangkau oleh beberapa
golongan. Tak perlu jauh-jauh, coba saja tanya pada beberapa orang yang
terpelajar mengenai AFTA atau MEA, agak aneh karena tak sedikit dari mereka
yang akan menjawab ‘Apa itu?’ ‘Seperti pernah dengar’ dan sebagainya. Lalu bagaimana
dengan masyarakat awam? Sementara seluruh warga Indonesia siap tidak siap, mau
tidak mau harus bertarung.
AFTA
saja masih bertanya-tanya, lalu bagaimana dengan MEA?
Agar tidak
terjadi kebingungan, akan saya jelaskan sedikit mengenai apa itu AFTA dan MEA. AFTA
sendiri adalah kependekan dari Asian Free
Trade Area, dimana Negara-negara ASEAN akan menghadapi perdagangan secara
bebas baik pada sektor modal, investasi, pertukaran tenaga kerja, expor-impor, dan
juga pendidikan. Sedangkan MEA sendiri adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN yaitu masyarakat yang termasuk ke dalam
negara-negara ASEAN yang Mengikuti AFTA. Contohnya masyarakat dari negara
Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, Vietnam, Thailand,
dan beberapa negara lainnya.
Kali ini
saya akan fokus pada sektor pendidikan Indonesia yang pasti akan terpengaruh
dengan adanya AFTA. Bagaimana bisa? Tentu saja karena adanya pertukaran tenaga
kerja. Jangan karena bertajuk ‘Free Trade’ jadi yang terbesit
dalam pikiran kita hanya soal ekonomi. Mari kita sama-sama geser fokus kita,
jika ada pertukaran tenaga kerja di bidang jasa apapun, maka bidang pendidikan juga jadi salah satunya, maka
pengajar kita akan dituntut untuk lebih giat dan professional, mengupgrade
dirinya sendiri agar mampu bersaing di antara pengajar yang akan berdatangan
dari luar negri.
Karena mereka
tidak lagi hanya bersaing dengan sesama pengajar di Indonesia. Maka secara
tidak langsung, penerus bangsa ini pun akan terancam dengan adanya pengajar
dari luar.
Kalau kita
mau menelusuri dari awal hingga akhir akan sangatlah panjang. Tapi bayangkan apa
yang akan pelajar Indonesia hadapi setelah lulus? Persaingan akan jauh lebih
sulit karena yang akan mereka hadapi adalah MEA dari negara lain yang mungkin
lebih professional dan setidaknya punya kelebihan di bidang bahasa. Misalnya
MEA tersebut berasal dari Brunei, setidaknya ia pasti bisa berbahasa Inggris,
Melayu, dan Indonesia walau mungkin tidak fasih. Belum lagi dari negara
lainnya.
Tak
sedikitpun ada niat untuk meremehkan bangsa sendiri
Tapi
cobalah buka mata anda.
Menurut
Ketua Umum LMND, lembaga pendidikan asing yang pro pasar akan menjamur maka
standar dan orientasi pendidikan pun akan bergeser menjadi pro pasar. Kini dapat
kita saksikan sendiri bagaimana keadaan pendidikan di Indonesia dengan segala
macam kurikulumnya. Yang menurut saya pribadi masih belum cukup kuat untuk
bersaing di antara MEA lainnya.
Belum
terlambat, masih ada waktu untuk mempersiapkan datangnya AFTA dan MEA, kita
masih punya kesempatan untuk mengupgrade diri kita masing-masing. Pemerintahpun
harus peka terhadap masyarakatnya, bekerjasama dengan bebagai lembaga untuk
mengadakan kelas-kelas soft-skill singkat secara gratis untuk pengajar kita dan
warga lainnya. Dan membenahi kurikulum serta sistem pendidikan yang ada, agar
nantinya lulusan Indonesia pun dapat bersaing secara professional. Tidakkah cukup
kita di jajah oleh Belanda selama 30 tahun dan Jepang 3,5 tahun? Tentu saja kita
tidak ingin menjadi penonton kesuksesan bangsa lain di negara sendiri bukan?
_____
|| I do write this by myself, but I don't own any fact I put inside this post, I quoted from some news. Same goes to the picture. All credits belong to The Owner. ||
Dibuat pada tanggal 21 Agustus 2015.


0 comments:
Post a Comment